AKSIBORNEO – “Hujan agak lebat sekitar 25 menit pada Selasa (15/9-2026) sore di Pontianak, belum dapat mengurangi ketebalan kabut asap karhutla.”
NAMUN hujan yang diawali guntur/petir cukup mengagetkan itu, setidaknya sedikit melegakan warga kota. Karena diketahui, hujan yang membasahi bumi kali ini merupakan hujan asli alam.
Sementara bala bantuan dari Jepang dan Malaysia serta beberapa negara sahabat lainnya, masih berkolaburasi membuat pembenihan awan guna menjadikan hujan buatan untuk memadamkan atau mendinginkan karhutla yang mengepung Pontianak, ibukota Kalimantan Barat.
Air hujan yang masuk ke wadah penampungan melalui pancuran rumah, dibuang lagi, karena belum bisa dipakai. Masyarakat Kalbar khususnya warga Kota Pontianak, minum/masak mengunakan air hujan tetap merupakan kebiasaan. Sehingga, hujan yang disebut sebagai hujan pertama setelah lama kemarau, hanya sebagai pembersih atap rumah yang dipenuhi debu.
Air hujan pertama yang ditampung di tong-tong air harus dibuang, karena masih kotor dan bau asap.Tak heran jika antrean galon masih terlihat ramai di depot-depot penjualan air bersih, bersumber dari pegunungan beberapa puluh kilometer dari Pontianak.
Kebanyakan warga hanya menggunakan air leding yang bersumber dari Sungai Kapuas dan sekitar, hanya untuk mandi dan cuci. Selain mengandung endapan pada airnya di bak mandi, juga kadangkala terasa bekas obat penjernaih air, kaporit misalnya.
Dampak karhutla (kebakaran hutan dan lahan) pada kemarau panjang tahun ini (2026) memang terasa luar biasa parah. Kabut asap tebal dari belasan kabupaten yang mengepung kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat, nyaris tak terkendali, sehingga menarik perhatian belasan negara sahabat memberikan bantuan pemadaman karhutla.
Data Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 2026
Berdasarkan data historis dan pemetaan lingkungan Global Forest Watch / Global Nature Watch, Kalimantan Barat memiliki sekitar 6,9 juta hektare hutan alam yang menutupi hampir setengah dari luas daratannya.
Total Luas Terbakar: 48.535,73 hektare (data BNPB per September 2026), merupakan gabungan dari data pantauan satelit SiPongi Kementerian Kehutanan (38.310,86 hektare) dan hasil pengukuran langsung tim di lapangan (10.224,87 hektare).
Kabupaten Ketapang tercatat sebagai daerah dengan luas kebakaran terbesar di Kalimantan Barat. Wilayah lain yang terdampak meliputi Mempawah, Pontianak, Melawi, dan Sambas.
Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi dengan luas karhutla tertinggi di Indonesia pada tahun 2026.
Luas Lahan dan Ekosistem Lainnya
Perkebunan Kelapa Sawit: Luas tanaman kelapa sawit di Kalimantan Barat menyentuh angka 2,15 juta hektar yang mencakup perkebunan rakyat dan perusahaan.
Ekosistem Gambut: Luas lahan gambut di Kalimantan Barat mencapai 2,8 juta hektar yang tersebar di 124 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).
Berdasarkan pantauan Satelit Sipongi Kementerian Kehutanan, Jika dibandingkan tahun 2025, luas areal karhutla tahun 2026 naik sebesar 69% (82.791,04 ha). **
…
