Banner Event

Ketua THN AMIN: Meroketnya Harga Beras Jelang Pemilu Bukan Adanya El Nino, karena Beras Dijadikan Bansos

Sengketa Pilpres

KETUA Tim Hukum Nasional Anies-Muhaimin (THN AMIN), Dr Ari Yusuf Amir menyatakan, keterangan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartarto di depan sidang PHPU di Mahkamah Konstitusi (MK) tidak sesuai dengan kenyataan.

Fakta menyatakan, El Nino bukan menjadi penyebab kenaikan harga beras atau El Nino tidak mengancam stabilisasi stok beras nasional.

‘’Menko Perekonomian dalam keterangannya di depan sidang MK menyatakan El Nino mengancam ketersediaan harga beras seluruh dunia. Ini diindikasikannya dengan terjadinya kenaikan harga beras di Thailand dan Vietnam. Namun setelah kami cek dengan fakta,  ternyata hal itu tidaklah demikian,’’ kata Ari Yusuf Amir, pada wawancara dengan KBA News, Rabu (17/04/2024) malam.

Ari menegaskan, pernyataan Menko Airlangga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini karena faktanya malah menyatakan sebaliknya. Hal itu adalah, fakta pertama, penurunan produksi beras nasional di tahun 2023 insignifikan (tidak signifikan) atau hanya mencapi 0,44 juta ton saja. Data ini menunjukkan kenyataan bahwa stok  beras relatif stabil bila dibandingkan beberapa tahun ke belakang.

Fakta kedua, adanya kenyataan bahwa pemerintah sudah mengimpor beras sebesar 3,8 juta ton sepanjang tahun 2023 hingga awal 2024. Besaran impor ini sudah melebihi penurunan produksi beras. Namun yang terjadi harga beras justru mencapai harga tertinggi di sepanjang sejarah Indonesia.

Fakta ketiga, produksi beras di Vietnam tetap stabil, dan bahkan justru cenderung meningkat pada tahun 2023. Sedangkan harga gabah di Thailand dan Vietnam meningkat karena mata uang mereka menguat, bukan harga gabahnya meningkat karena adanya bencana perubahan iklim akibat El Nino.

Adanya fakta atas keterangan Menko Airlangga itu, kami TIM THN AMIN membuat kesimpulan:  Adanya kenyataan bahwa beras tetap meroket di tengah impor yang begitu besar. Fenomena ini selanjutnya malah menunjukkan adanya penyalahgunaan stok beras bukan untuk stabilisasi harga, seperti operasi pasar dan lainnya. Namun, meroketnya harga itu karena beras digunakan untuk penyediaan bantuan sosial (Bansos) dan kepentingan politik pada ajang Pilpres 2024,’’ kata Ari Yusuf Amir menyimpulkan fakta temuannya.*kba

Comments
Loading...