Banner Event

Survei IPO Tempatkan Anies Baswedan di Posisi Ketiga, NasDem: Masih Panjang

MESKI nama Anies Baswedan masuk tiga besar dalam survei elektabilitas calon presiden terbaru yang dirilis Indonesia Political Opinion (IPO), partai tersebut menilai dinamika politik masih dapat berubah menjelang kontestasi nasional mendatang.

Bendahara Umum Partai NasDem, Ahmad Sahroni, mengatakan jarak waktu menuju Pilpres 2029 masih cukup panjang. Karena itu, ia menilai hasil survei saat ini belum bisa menjadi patokan mutlak untuk menentukan arah dukungan politik partai.

Dalam survei itu, Anies Baswedan menempati posisi ketiga dengan elektabilitas sebesar 11,3 persen.

“Pemilu masih panjang. Elektabilitas para tokoh yang saat ini aktif di panggung politik masih bisa naik atau turun. Jadi, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya,” ujar Sahroni di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.

Sahroni menegaskan bahwa NasDem masih memiliki banyak pertimbangan sebelum memutuskan sosok yang akan diusung sebagai calon presiden pada 2029. Menurutnya, pembahasan mengenai kandidat masih terlalu dini untuk dilakukan secara serius.

Ketika ditanya mengenai peluang Anies Baswedan mendapatkan dukungan NasDem dalam Pilpres 2029, Sahroni tidak memberikan kepastian. Ia menekankan bahwa partainya masih membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan.

“Belum, pertimbangan NasDem masih membutuhkan proses yang panjang,” tuturnya.

Alih-alih membicarakan kandidat untuk Pilpres 2029, Sahroni menyebut NasDem saat ini memprioritaskan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, partai ingin menjalankan peran dalam pemerintahan hingga masa jabatan berakhir pada 2029.

Sahroni menilai dukungan terhadap pemerintah menjadi agenda penting di tengah berbagai tantangan dan dinamika politik yang berkembang.

Ia menegaskan bahwa NasDem masih memilih untuk berkontribusi dalam upaya mendorong kebijakan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

“Fokus NasDem saat ini adalah mendukung pemerintahan sampai 2029. Hal itu penting. Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, NasDem tetap menjadi bagian dari pemerintah dan berupaya mendukung berbagai hal yang dapat membawa kebaikan ke depan,” pungkasnya.

Dalam survei terbaru IPO, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mencatatkan elektabilitas tertinggi dalam simulasi pertanyaan spontan atau top of mind mengenai calon presiden 2029.

Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas sebesar 33,7 persen. Angka tersebut menempatkannya di posisi pertama, unggul dari Presiden Prabowo Subianto yang meraih 14,5 persen.

Sementara itu, Anies Baswedan berada di peringkat ketiga dengan elektabilitas 11,3 persen. Hasil tersebut menempatkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu dalam jajaran tiga tokoh teratas yang disebut responden ketika menjawab pertanyaan mengenai calon presiden secara spontan.

Berikutnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperoleh elektabilitas sebesar 4,3 persen, sedangkan Ganjar Pranowo mencatatkan angka 4,1 persen.

Tingginya elektabilitas Dedi Mulyadi turut memunculkan pembicaraan mengenai peluang politiknya menjelang Pilpres 2029. Selain unggul dalam survei IPO, namanya juga dikaitkan dengan kemungkinan kembali ke Partai Golkar.

Kemungkinan duet Dedi Mulyadi dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga menjadi salah satu skenario yang diperbincangkan dalam dinamika politik menuju pemilihan presiden mendatang.

Posisi Dedi Mulyadi dalam survei IPO juga belum menutup peluang bagi tokoh lain untuk meningkatkan elektabilitas. Prabowo, Anies, AHY, Ganjar, dan figur potensial lainnya masih memiliki waktu untuk memperkuat dukungan publik sebelum tahapan Pilpres 2029 berlangsung.

IPO melaksanakan survei nasional tersebut menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden. Metode ini menggunakan tahapan pemilihan sampel secara acak untuk menjangkau responden sesuai rancangan penelitian.

Survei tersebut memiliki margin of error sebesar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Angka-angka ini merupakan bagian dari keterangan metodologis yang perlu diperhatikan ketika membaca hasil survei elektabilitas.

Margin of error menunjukkan besarnya rentang ketidakpastian statistik yang berkaitan dengan hasil estimasi survei. Sementara itu, tingkat kepercayaan 95 persen menggambarkan tingkat keyakinan statistik berdasarkan rancangan pengambilan sampel dan asumsi yang digunakan.

Karena itu, hasil survei sebaiknya dibaca sebagai potret preferensi responden pada periode pengumpulan data, bukan sebagai prediksi pasti mengenai hasil pemilihan presiden yang masih akan berlangsung pada 2029.*ayoindonesia

Comments
Loading...