AKSIBORNEO – “Apa pun istilahnya, peristiwa sowannya perwakilan 12 organisasi mahasiswa ke Istana Negara menemui Presiden Joko Widodo, Rabu (23 Maret 2022), dikecam masyarakat sebagai peristiwa yang diseting untuk mempengaruhi opini publik yang terus berkembang minta Jokowi mundur dari RI-1, konon pula minta 3 priode.”
MEREKA, para mahasiswa yang menamakan dirinya Kelompok Cipayung Plus itu, merasa bangga dan terhormat bisa bertemu langsung dengan Presiden Jokowi.
Dalam pertemuan tersebut, hadir Raihan Ariatama (PB HMI), Jefri Gultom (PP GMKI), Muhammad Abdullah Syukri (PB PMII), Benidiktus Papa (PP PMKRI), I Putu Yoga Saputra (PP KMHD), Abdul Musawir Yahya (DPP IMM), Wiryawan (PP HIKMAHBUDHI), Muhammad Asrul (LMND), Rafani Tuahuns (PB PII), Iqbal Muhammad Dzilal (HIMA PERSIS), Zaki Ahmad Rivai (PP KAMMI) dan Arjuna Putra Aldino (DPP GMNI).
Aksi para mahasiswa berpakaian batik itu pun viral di media sosial pada video yang menampilkan wajah mereka satu persatu cut to cut, lengkap dengan jabatan di organisasi masing-masing. Gambar berlatar depan seekor anjing yang terus menerus menjilati kaki tuannya, dengan narasi diakhir video menyebut ‘penjilat’.
Pertemuan yang dinilai tak wajar di tengah penderitaan rakyat akibat berbagai persoalan ekonomi yang centang prenang dalam utang negara yang tak terhingga, pengangguran akibat meluapnya masuk ke tanah air, TKA dari Tiongkok serta sederet persoalan lain yang hanyut ditelan muara, sementara mahasiswa diharapkan menjadi ujung tombak penyambung lidah rakyat.
Harap maklum, BEM (badan eksekutif mahasiswa) tak menganggap kelompok Cipayung Plus tersebut sebagai perwakilan mahasiswa, menyebut mereka kelompok Cipayung Plus-plus, diibaratkan Salon Plus-plus. Tidak sama sekali mewakili aspirasi mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat.
Faktanya, BEM Seluruh Indonesia dengan ratusan massa, Senin (28 Maret 2022) pagi menggeruduk Istana membawa beberapa tuntutan.
Apa pun istilahnya dan atau motifnya antara aksi mahasiswa BEM-SI di luar Istana dengan selusin ‘tokoh’ berbaju batik di dalam Istana, mengelitik hati saya sebagai aktifis ’66 mantan Wadan Yon Sutoyo KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) Kalimantan Barat.
Ketika itu sejumlah elemen kesatuan aksi antara lain KAMI/KAPPI dan lainnya menggeruduk gedung DPR-RI pada 12 Januari ’66, sama satu suara, murni menyampaikan tiga tuntutan rakyat, gak ada motif-motifan atau modus-modusan.
1.Bubarkan PKI
2,Reshuffel Kabinet Dwikora dari anasir-anasir G30S/PKI
3.Turunkan/stabilkan harga-harga.
Namun melongok aksi demo mahasiswa teranyar kali ini, beda kidung antara yang terhormat masuk Istana membawa puja-puji, dengan yang beraksi di luar Istana menyampaikan aspirasi BEM-SI untuk 4 tuntutan.
Pertama mengingatkan kembali janji-janji kampanye atau visi misi Jokowi-Ma’ruf untuk dipenuhi sampai masa jabatannya berakhir. Kedua, menolak penundaan Pemilu 2024 atau masa jabatan tiga periode, lalu menyoal Ibu Kota Negara (IKN) baru, dan terakhir stabilitas serta ketersediaan harga bahan pokok.
Dari perasaan hati yang tergelitik, saya pun tertawa ngikik tidak disuarakan, supaya tidak ada yang takut mengira suara jin lagi buang anak.
Betapa tidak, saya terpesona oleh ujaran Rocky Gerung yang mengatakan: Mahasiswa itu pakaii jaket, kalau pakai batik itu Calo!
“Kemaren saya berdiskusi dengan beberapa BEM di Ibukota, dan menganggap bahwa mahasiswa yang kemaren itu bukan mahasiswa. Kalau mahasiswa mustinya pakai jaket mahasiswa, bukan pakai batik. Kalau batik biasanya calo, kata mahasiswa,” kata pengamat politik Rocky Gerung saat berbincang dengan wartawan FNN, Hersubeno Arief dalam kanal Rocky Gerung Offiscial, Jumat 25 Maret 2022.
Rocky menegaskan bahwa identitas mahasiswa adalah jaket atau atribut organisasi.
“Jadi, kalau datang ke situ pakai batik, biasanya pulang bawa amplop. Itu cara berpikir mahasiswa sekarang, meledek senior-seniornya,” paparnya.
Tiba-tiba saja saya jadi teringat pada jaket almater yang puluh tahun silam jadi kebanggaan membungkus pundak dan sekujur dada dan punggung. Hingga kini jaket almamater tersebut masih saya simpan dengan apik untuk memotifasi anak-cucu supaya sampai ke jenjang perguruan tinggi.
Juga saya punya batik berbagai motif untuk kondangan sambil mengantongi amplop, bukan pulangnya bawa amplop.*
(Pontianak, 29092022-10.00WIB)
