AksiBorneo – “Hidup dan kehidupan manusia pada galibnya tak lepas dari nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Nikmat yang tak terhingga, yang tak dapat dihitung banyaknya secara matematika atau dengan ukuran apa pun juga.”
AKAN tetapi ada satu nikmat yang sering kita lupa untuk mengingatnya, bahkan lupa atau jarang mengucapkannya sebagai rasa syukur diantara berjibun nikmat yang tak terhitung itu.
Demikian disampaikan oleh Ustadz Drs.H.Muhammad Mar’ih, Mpd.I saat berkunjung di kantor redaksi AksiBorneo baru-baru ini.
Menurut guru agama dan wakil kepala sekolah pada sebuah SMAN di Pontianak (Kalimantan Barat) ini, ada beberapa nikmat Allah yang selalu kita lafazkan dalam berbagai kesempatan sebagai tanda syukur atas karuniaNYA.
“Nikmat tersebut antara lain nikmat iman, nikmat umur, nikmat sehat jasmani dan rohani, nikmat rezeki, nikmat punya zuriat yang soleh-soleha dan sebagainya”, tutur Ustadz Mar’ih.
Nikmat-nikmat tersebut tanpa kita minta sudah diberikan oleh Allah SWT dalam ketentuannya yang pasti.
Namun, jika nikmat-nikmat tersebut kita lafazkan dalam doa, itu merupakan implementasi agar diri kita selalu mengingatNYA.
Lalu nikmat apa yang sering kita lupakan itu.
“Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang telah melimpahkan segala nikmatNYA”, ujar Ustadz Mar’ih.
Nikmat paling besar yang sering kita lupakan untuk disyukuri, kata Ustadz Mar’ih, adalah Allah SWT tutupi aib kita, sehingga tampaklah seakan-akan kita ini orang baik, tanpa kekurangan, tanpa kesalahan, dan tanpa keburukan.
“Seandainya Allah SWT tidak menyayangi, maka dibukaNYA aib kita, sehingga jangankan orang lain; istri, anak dan keluarga kita pasti menjauh darikita, karena mereka malu memiliki keluarga yang punya aib”, tuturnya.
Olehkarena itu, Ustadz Mar’ih mengingatkan, janganlah pernah kita membuka kejelekan atau keburukan orang lain, karena aib kita sendiri lebih banyak dan bertumpuk-tumpuk. Tetaplah kita konsisten menjaga kehormatan orang lain, agar di akhirat nanti aib kita ditutupi oleh Allah SWT.
Ia pun mengutip sebuah hadizt, Nabi SAW bersabda :
“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah tutupi aibnya di hari kiamat”. (HR Muslim dari Abu Hurairah RA).
Padahal, kata Ustadz Mar’ih saat menutup bincang-bincangnya dengan redaksi, Rasulullah selalu berdoa; ”Ya Allah, tutuplah semua keburukan, kekurangan, kenistaan, kehinaan kami dengan tutup yang indah dariMU”.
“Olehkarena itu, seringlah kita berdoa seperti yang dimohonkan oleh Rasulullah SAW tersebut”, pungkas Ustadz Mar’ih.*
